Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Kamis 03 September 2026

Bacaan Liturgis – PW Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja, Kamis, 03 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 3:18-23

  • Mazmur Tanggapan: Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6

  • Bait Pengantar Injil: Alleluya. Mari, ikutilah Aku, sabda Tuhan, dan kalian akan Kujadikan penjala manusia. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 5:1-11

Ia Selalu Beserta Kita

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Gereja merayakan peringatan Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja. Ia lahir di Roma, Italia, tahun 540. Ia memulai masa kepausannya ketika ia mencapai usia emas, 50 tahun. Dan, seolah sebagai hadiah pesta emas kehidupannya, pada tahun itu, tepatnya pada 3 September 590 ia mendapat anugerah sebagai pemegang takhta Suci. Ia mengemban tugas mulia sebagai pemimpin Gereja Katolik Universal hingga 12 Maret 604. Oleh sebab itu, apabila peringatannya dirayakan setiap tanggal 3 September, itu berarti mengambil tanggal awal kepausannya, bukan tanggal kematiannya.

Sebagai seorang Paus, Gregorius Agung, disebut juga Gregorius I, sungguh menghayati perannya sebagai seorang gembala sejati, terutama dalam membantu kaum miskin, dalam menyebarkan dan meneguhkan iman. Maka, dari Paus Gregorius Agunglah muncul istilah β€œservus servorum Dei” dari bahasa Latin, yang artinya β€œhamba para hamba Allah” bagi Paus, baik itu berlaku bagi dirinya maupun bagi setiap Paus sebagai penerus takhta Santo Petrus.

Santo Paus Gregorius Agung juga mendapat gelar sebagai Pujangga Gereja. Hal ini tidak berlebihan, sebab selama masa kepausannya (13 tahun, 590-604), ia telah menulis lebih dari 850 surat. Surat-suratnya memberikan gambaran secara tepat mengenai karya-karyanya, di mana Tuhan turut serta dalam karya pelayanannya sebagai pemimpin Gereja universal.

Para saudara, Injil hari ini memaparkan kegagalan Simon, seorang nelayan yang dipanggil untuk mengikuti Yesus. Namun, malam itu dia gagal menangkap ikan. Ketika selesai mengajar, Yesus berkata kepada Simon, β€œBertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk 4:4). Bagaimana jawaban Simon? Dia berkata, β€œGuru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5).

Seorang nelayan profesional, berpengalaman, ternyata bisa gagal. Bersama nelayan yang lain, Simon telah bekerja keras sepanjang malam. Namun, mereka tidak berhasil menangkap ikan seekor pun. Dalam terang pengalaman Simon ini, kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga bagi hidup kita:

Pertama, Simon mau taat. Bekerja keras sepanjang malam pasti menguras energi, emosi dan budi. Simon pasti merasa lelah dengan kerja kerasnya sepanjang malam itu. Namun, ia mau taat kepada Yesus, Sang Guru. Itulah sebabnya, kepada-Nya Simon berkata, β€œTetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5).

Kalimat Sang Guru yang berbunyi, β€œBertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” didengar, ditangkap dan dimengerti oleh Simon bukan hanya sebagai sebuah permintaan, tetapi lebih sebagai perintah; dan karena berupa perintah, maka Simon menaatinya. Ia menebarkan jala juga. Bersama para nelayan lainnya dia bersedia untuk melakukannya sekali lagi, bukan di tempat yang sama, yang semalaman mereka menebarkan jala dan ternyata di lokasi itu tidak ada ikannya. Tetapi, di tempat yang lain, di tempat yang dalam, yang Yesus tahu di situlah ikan-ikan sudah berkumpul.

Orang mengatakan, β€œKegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.” Dan sebagian orang mengalami keberhasilan yang tertunda tersebut dalam kurun waktu yang (terlalu) lama. Mengapa? Karena mereka terlalu cepat menyerah setelah sekali gagal. Mereka tidak segera mencobanya lagi.

Pengalaman Simon lain. Keberhasilan yang tertunda tersebut hanya berlangsung dalam hitungan jam. Sebab, berkat ketaatannya kepada Yesus dan perintah-Nya, bersama para nelayan lain ia segera melakukan instruksi yang diberikan Yesus, yakni menolakkan perahunya ke tempat yang dalam, yang Yesus tahu, di situlah ikan-ikan tersebut berkumpul. Apa hasilnya? Penginjil mencatat, β€œDan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar, sehingga jala mereka mulai koyak” (ay. 6). Luar biasa, buah dari ketaatan adalah keberhasilan.

Kedua, Simon punya semangat untuk melakukan apa yang kelihatannya tidak ada harapan. Nelayan berpengalaman tahu persis kapan waktu yang baik untuk menangkap ikan. Simon juga sudah terbiasa untuk menangkap ikan di malam hari. Itulah sebabnya, mereka pergi menangkap iman di malam hari.

Siang hari adalah saat untuk istirahat dan membersihkan jala yang kotor sehingga siap digunakan lagi saat pergi menangkap ikan (bdk. ay. 2). Nah, kalau saat yang baik untuk menangkap ikan, yakni malam hari, tidak menangkap apa-apa, apalagi pada siang hari. Jika siang hari pergi menangkap ikan, harapannya kecil bisa menangkap ikan. Bisa-bisa mereka gagal seperti yang terjadi malam itu. Namun, Simon punya semangat untuk melakukan apa yang kelihatannya tidak ada harapan.

Perintah Yesus untuk menolakkan perahu ke tempat yang dalam membangkitkan semangat Simon untuk bekerja menangkap ikan. Di dalam Yesus, Sang Guru, dan karena perintah-Nya, Simon selalu memiliki harapan. Di dalam Yesus tidak ada ruang untuk pesimis. β€œDan,” kata Rasul Paulus yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, β€œpengharapan tidak mengecewakan” (Rom 5:5).

Bagi Simon, Yesus adalah Sang Penguasa waktu. Entah malam, entah siang, jika Yesus yang berkarya, yang memberi perintah untuk melakukannya, tanpa menunda-nunda, pasti hasilnya tidak sia-sia. Mukjizat itu nyata. Simon pun melihat dengan matanya sendiri.

Penginjil menulis, β€œMelihat hal itu Simon tersungkur di depan Yesus dan berkata, β€˜Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa’” (ay. 8). Di hadapan Yesus yang penuh kuasa, Simon merasa tidak ada apa-apanya selain hanya ada rasa berdosa. Di hadapan Yang Ilahi, Simon tahu diri; ia menyadari kehinaannya sebagai orang yang berdosa dan perlu dibasuh oleh kerahiman ilahi supaya menjadi murid-Nya yang suci.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, belajar dari pengalaman Simon, kita akan menjadi murid-murid Yesus yang berhasil. Jika suatu saat mengalami kegagalan, hal itu Tuhan izinkan terjadi agar kita tidak sombong; agar kita lebih mengandalkan Tuhan daripada mengandalkan diri sendiri dengan segala pengalaman yang dimiliki; agar kita lebih taat kepada Tuhan daripada mengikuti kemauan kita sendiri.

Selain itu, kita akan menjadi murid-murid Yesus yang rendah hati, seperti Simon, berani mengakui diri sebagai seorang yang berdosa. Hanya orang yang rendah hati, yang mau menyadari diri sebagai orang berdosa dan membutuhkan kerahiman ilahi, akan menjadi seorang murid yang suci.

β€œKami tidak menangkap apa-apa” adalah sebuah realita yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, jika kita mau mendengarkan Yesus dan taat kepada-Nya, hasil yang kita lakukan akan luar biasa, sebab Ia selalu beserta kita seperti dahulu dialami oleh Santo Gregorius Agung. Tuhan memberkati. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.