Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Mingguan

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (setiap Sabtu Pertama setiap bulan)

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Rabu 16 September 2026

Bacaan Liturgis – PW Santo Kornelius, Paus dan Martir dan Santo Siprianus, Uskup dan Martir, Rabu, 16 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 12:31-13:13

  • Mazmur Tanggapan: Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3.4-5.12.22

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 7:31-35

Menjadi Orang-orang yang Berhikmat

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, bersama seluruh Gereja hari ini kita merayakan peringatan Santo Kornelius, Paus dan martir. Ia menjadi Paus mulai bulan Maret 251 hingga September 253. Itu berarti, ia menjalankan tugasnya di masa sulit sebagai Paus hanya sekitar dua tahun.

Ia memiliki sahabat karib yaitu Santo Siprianus, Uskup Kartago, Afrika Utara, yang hidup tahun 210-258, yang juga dirayakan peringatannya hari ini. Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada Kornelius, Siprianus mengawali suratnya yang ditulis ketika mereka sama-sama masih sebagai imam, “Dari Siprianus kepada Kornelius, saudaraku. Aku mendengar tentang bukti-bukti cemerlang, yang engkau berikan dalam iman dan keberanian. Dengan sangat gembira aku menerima kabar tentang kesaksian imanmu yang begitu mulia, hingga aku merasa ikut mendapatkan pahala dan pujian yang diberikan kepadamu.”

Santo Siprianus menulis surat sebagai seorang sahabat sejati. Seorang sahabat sejati tidak pernah merasa iri hati jika sang sahabatnya bisa hidup dan bersaksi dengan bukti-bukti yang cemerlang. Siprianus justru merasa gembira ketika mendengar berita tentang Kornelius yang berhasil menjadi saksi iman akan Yesus dengan berani. Bahkan pujian yang diberikan kepada Kornelius seolah juga diberikan kepadanya. Ia merasa ikut mendapat pahala.

Selanjutnya Santo Siprianus menulis, “Karena kita ini satu Gereja, dengan tujuan yang sama, selaras dalam cinta, bagaimana seorang imam tidak gembira akan kehormatan yang diperoleh rekan imam, seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri? Persaudaraan mana tidak bergembira akan kegembiraan seorang saudara?”

Santo Siprianus menempatkan diri sebagai seorang imam yang bersahabat dengan seorang imam sebagai rekan imam yang bisa saling memberikan support, saling meneguhkan dalam karya dan panggilan bagi Gereja yang satu dan demi satu Gereja, dengan tujuan yang sama dan hidup selaras dalam cinta. Semangat seperti itulah yang mesti bergelora dalam diri para imam zaman ini. Kaum awam, laki-laki dan perempuan, mesti menempatkan diri sebagai supporter, pendukung hidup, panggilan dan pelayanan para imam, di mana pun mereka berkarya dalam Gereja Katolik.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kedua orang kudus dan martir yang dirayakan peringatannya hari ini adalah orang-orang yang telah menjadi korban kejahatan manusia, sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini. Yohanes telah datang dan hidup seperti seorang pertapa, hidup penuh matiraga, ia tidak makan dan tidak minum anggur, namun orang banyak – termasuk orang-orang Farisi dan para ahli Taurat – berkata, “Ia kerasukan setan” (Luk 7:33).

Selanjutnya ketika Yesus datang dan hidup seperti orang-orang lain pada umumnya, – Ia makan dan minum - namun orang-orang yang sama ini menuduh bahwa Yesus terlampau menikmati hidup. Mereka berkata, “Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (ay. 34). Di mata mereka, tindakan Yohanes dan Yesus tidak ada yang benar. Sebaik apa pun yang Yohanes dan Yesus lakukan, di mata mereka, orang-orang jahat itu, tidak ada yang baik dan benar. Komentar mereka selalu negatif, inilah kejahatan mereka, yang bersumber dari hati yang jahat. Dengan kejahatan mereka, mereka jelas bukanlah orang-orang berhikmat (bdk ay. 35).

Orang yang berhikmat itu seperti Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Orang yang berhikmat itu seperti yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus, yakni orang yang hidup dalam kasih. Sebab itu dia berkata, “Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing” (1Kor 13:1).

Lebih lanjut Rasul Paulus berkata, “Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (ay. 2).

Orang yang berhikmat itu tampak dalam hidup yang ditandai oleh kasih yang oleh karena kasih itu dia bisa berlaku sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Dia tidak bertindak kurang sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (lih. ay. 4-5).

Para saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, mari kita mohon bimbingan Roh Kudus agar kita menjadi orang-orang yang berhikmat. Yesus, Yohanes, Santo Kornelius, Santo Siprianus dan Santo Paulus adalah contoh orang-orang yang berhikmat. Mari kita belajar dari mereka. Tuhan memberkati! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.