Hari Senin - Sabtu
Hari Jumat Pertama Setiap Bulan
Hari Sabtu
Hari Minggu
Ditiadakan
Bacaan Liturgis – Hari Rabu, Pekan II Prapaskah, 04 Maret 2026
Bacaan Pertama: Yeremia 18:18-20
Mazmur Tanggapan: Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu!
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 31:5-6.14.15-16
Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Akulah terang dunia, sabda Tuhan, barangsiapa mengikut Aku ia akan mempunyai terang hidup. Terpujilah.
Bacaan Injil: Matius 20:17-28
Menjadi Pelayan Seperti Kristus
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, sejak semula setiap pribadi adalah makhluk sosial (Latin: homo socius). Sebagai makhluk sosial dia bisa berkorelasi, berelasi, berkomunikasi, berkomunitas dan bersaudara dengan orang lain.
Selain itu, setiap orang juga memiliki kemampuan untuk menjadi pelayan. Dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menjadi pelayan berarti menjadi orang yang melayani orang lain atau sesamanya, di mana pun berada. Namun, untuk menjadi pelayan dibutuhkan sebuah komitmen.
Ada banyak orang yang menyediakan diri untuk melayani orang lain karena memiliki komitmen dalam dirinya. Orang-orang seperti ini pantas diapresiasi. Seperti dilakukan oleh Paus Fransiskus ketika menyaksikan ada banyak orang dalam Gereja yang memiliki komitmen untuk terlibat dalam aneka pelayanan. Dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) Paus Fransiskus menulis, “Saya merasa sangat berterima kasih kepada semua yang berkomitmen untuk melayani di dalam dan untuk Gereja … dari para uskup ke bawah sampai mereka yang memberikan pelayanan yang paling rendah dan tersembunyi” (No. 76).
Banyak orang melayani dengan penuh komitmen disertai dengan semangat pengorbanan yang memang menuntutnya demikian. Dalam hal ini, pengorbanan itu memainkan peranan yang penting dan memberikan dorongan yang kuat bagi kita untuk tetap setia pada tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Dengan banyak cara, mereka melayani sebagai ungkapan kesaksian mereka akan kasih yang besar kepada sesama. Hal ini disadari oleh Paus Fransiskus, seperti disampaikan dalam seruannya, “Saya bersyukur atas teladan indah yang diberikan kepada saya oleh begitu banyak umat Kristiani yang dengan sukacita mengorbankan hidup mereka dan waktu mereka. Kesaksian ini menghibur dan menopang saya dalam upaya saya sendiri untuk mengatasi keegoisan dan untuk memberikan diri saya lebih penuh lagi” (Ibid.).
Menjadi pelayan yakni memberikan diri lebih penuh lagi seperti diungkapkan oleh Paus Fransiskus sungguh merupakan suatu ungkapan yang menggerakkan dan memotivasi diri kita dalam melayani. Semoga banyak umat Paroki Meruya, khususnya yang saat ini menduduki jabatan struktural, sebagai pengurus lingkungan, pengurus wilayah, anggota Dewan Paroki Pleno, Dewan Paroki Inti atau Dewan Paroki Harian maupun umat paroki pada umumnya yang memiliki komitmen untuk melayani, di mana pun dan pada kelompok mana pun, merasa termotivasi oleh semangat pelayanan Paus Fransiskus. Terutama, sebagai seorang Bapa suci, beliau dengan rendah hati mengatakan, “Kesaksian ini menghibur dan menopang saya dalam upaya saya sendiri untuk mengatasi keegoisan dan untuk memberikan diri saya lebih penuh lagi” (Ibid.). Dalam hal ini kita perlu belajar dari Paus Fransiskus, mau terus-menerus mengatasi keegoisan supaya dapat melayani secara lebih penuh.
Keegoisan adalah salah satu penghambat dalam melayani. Tidak sedikit umat ketika diminta untuk melayani dalam Gereja melalui jabatan struktural di paroki, mereka menyatakan tidak bersedia dengan berbagai alasan. Salah satu penyebabnya adalah keegoisan atau kerendahan hati yang semu.
Misalnya, ada orang yang menolak dengan alasan, “Saya tidak punya keahlian apa-apa, jangan saya, orang lain saja.” Padahal, jika saja dia mau belajar, mau bekerja dan mau bekerja sama dengan yang lain, kemauan semacam itu sudah merupakan modal berharga untuk melayani Gereja, umat Allah. Punya keahlian tertentu namun tidak mau melayani dan tidak bisa bekerja sama dengan umat yang lain juga tidak akan membuat dirinya menjadi pelayan di dalam dan untuk Gereja.
Sebagai makhluk sosial, setiap orang adalah pelayan bagi orang lain. Dalam hal ini Pribadi Yesus sungguh luar biasa. Apa yang Dia katakan menunjukkan kualitas Diri sebagai Pribadi yang melayani. Perhatikan apa yang Yesus katakan kepada murid-murid-Nya dalam Injil hari ini, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:26b-28). Inilah cara Yesus - yang disebut Anak Manusia - untuk menjadi berkat dan keselamatan bagi umat manusia. Dengan cara ini, Yesus menjadi pelayan bagi semua orang.
Tentang Yesus sebagai pelayan semua orang, Katekismus Gereja Katolik memberikan penegasan demikian, “Kristus, Raja dan Tuhan semesta alam, telah menjadikan Diri pelayan semua orang, karena “Ia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28)” [No. 622].
Dengan demikian, selain menjadi pelayan semua orang, Yesus juga sekaligus menjadi model bagi setiap pelayan dalam Gereja. “Umat Allah mempertahankan “martabatnya sebagai raja”, apabila ia setia kepada panggilannya, untuk melayani bersama Kristus” (Katekismus Gereja Katolik, No. 786).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, apabila kita terlibat dalam pelayanan di dalam dan untuk Gereja, sejatinya kita menjadi pelayan bersama Kristus. Kita tidak pernah melayani sendiri, lepas dari Kristus. Dia adalah pelayan semua orang. Dia adalah model pelayanan bagi setiap pelayan, maka setiap pelayan di dalam Gereja tidak pernah bisa dilepaskan dari Yesus. Yesus adalah kekuatan dan inspirator bagi setiap pelayan.
Oleh karena itu, mari kita menjadi pelayan di dalam dan untuk Gereja sebagaimana Yesus menjadi pelayan bagi semua orang. Mari kita menjadi pelayan seperti Kristus dan bersama Kristus. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]
Syallom, umat terkasih diundang mengikuti Misa Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria, yang diadakan di Gereja. Terimakasih - Tuhan Memberkati
Syallom, Bapak/Ibu dan teman-teman terkasih dalam Kristus. 🙏
Panitia Paskah 2026 Paroki MKK mengundang seluruh umat untuk mengikuti Jalan Salib yang dilanjutkan dengan Misa sebagai persiapan menyambut Paskah. Mari kita ambil waktu untuk hening, berdoa, dan berjalan bersama Tuhan dalam suasana penuh iman.
Syallom, sobat KKMK! đź’«
Masa Prapaskah bukan cuma soal pantang & puasa… tapi juga soal jalan bareng sama Tuhan 💜
"Kamu Muda, Berani Pikul Salib, Berani Rawat Bumi"
Yuk, ambil waktu sejenak buat ikut Jalan Salib Ekologis bersama.
Syallom, Mari hadirlah bersama dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Kabar Sukacita yang diadakan di Gereja. Terimakasih - Tuhan Memberkati
Syallom, dalam Tahun Yubileum Khusus St. Fransiskus Assisi, mari kita mendoakan Novena Pertobatan Ekologis bersama.
Paroki Meruya - Gereja Maria Kusuma Karmel telah menerapkan Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan (PPADR). Silakan klik link berikut untuk informasi lebih lanjut
https://mkk.or.id/timsus-detail.php?s=ppadr .
Syallom, Minggu Prapaskah III adalah Minggu Laetare — Minggu Sukacita.
Di tengah tobat, Kristus memberi kita air hidup yang memuaskan dahaga jiwa.
PDPKK MKK mengundang Bapak/Ibu, Saudara-saudari terkasih dalam Perayaan Ekaristi penuh sukacita dan syukur.
Syallom, ARDAS KAJ 2026: "Keutuhan Alam Ciptaan" mengajak keluarga Katolik membangun pertobatan ekologis nyata melalui pemilahan sampah dari rumah.
Maka TSBP1 (SKK & Sie Kes) dan Subsie LH mengundang KorWil & Ketua Lingkungan menghadiri Sosialisasi & Edukasi -- "Pemilahan Sampah dalam Keluarga".
Syallom,
Berikut dilampirkan jadwal Prapaskah dan Pekan Suci beserta jadwal Sakramen Tobat 2026.