Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 27 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Jumat, Pekan V Prapaskah, 27 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Yeremia 20:10-13

  • Mazmur Tanggapan: Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengar suaraku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-3a.3bc-4.5-6.7

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 10:13-42

Bukan Hanya Seorang Manusia

Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan, selalu menjadi fakta mengagumkan jika dalam Kitab Kejadian dicatat bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej 1:27).

Di antara semua ciptaan, manusialah yang menjadi ciptaan yang terbaik, teragung, terindah dan termulia karena menurut gambar Allah diciptakannya mereka, laki-laki dan perempuan. Itulah sebabnya Daud saat berdoa berseru, “Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkan-nya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm 8:5-6).

Manusia menduduki tempat istimewa dalam ciptaan. Ia diciptakan “menurut gambar Allah” dan “hampir sama seperti Allah”, karena itu ia memiliki martabat yang tinggi ketimbang ciptaan lain. Ia memiliki martabat sebagai pribadi; ia bukan sesuatu, melainkan seseorang yang patut dihargai, dikasihi, dihormati dan dikagumi.

Oleh karena itu, Santo Yohanes Krisostomus tidak mampu menahan curahan hatinya. Dalam khotbahnya tentang Kitab Kejadian dia berkata, “Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Itulah manusia, untuk dialah langit dan bumi dan lautan serta seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangi Putra-Nya yang tunggal untuk dia. Allah malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu, supaya menaikkan manusia kepada Diri-Nya dan memperkenankan dia duduk di sebelah kanan-Nya.”

Santo Yohanes Krisostomus, seorang kudus yang dijuluki Si Mulut Emas lantaran khotbah-khotbahnya yang memukau dan berisi, menyadarkan manusia segala zaman akan martabat manusia sebagai pribadi yang agung, hidup dan patut dikagumi. Selain itu, manusia juga sebagai pribadi yang layak dikasihi dan dilayani mengingat dia adalah pribadi yang bermartabat luhur, secitra dengan Allah. Seperti ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), “Allah menciptakan setiap orang menurut citra-Nya, dan ia mencerminkan sesuatu dari kemuliaan Allah. Seperti apa pun penampilannya, setiap orang sangat kudus dan layak kita kasihi dan layani” (No. 274).

Tidak mengasihi, tidak melayani, apalagi menghina atau mengolok-olok seseorang karena penampilannya, karena dia itu miskin, berarti menghina Penciptanya. Sebab, dalam kemiskinannya ia tetap segambar dengan Allah. Itulah sebabnya sang bijak berkata, “Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya” (Ams 17:5). Lepas dari status sosial-ekonomi seseorang, setiap orang adalah pribadi yang memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Ia secitra, segambar dengan Allah, dan tidak bisa diganggu gugat, apalagi direndahkan martabatnya.

Orang-orang Yahudi tidak mampu memandang setiap orang sebagai pribadi yang memiliki martabat tinggi, agung, luhur dan mulia. Akibatnya, mereka gampang mengabaikan, merendahkan dan itu berarti mereka tidak menghormati manusia, siapa pun dia, termasuk Yesus sendiri.

Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab, “Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah, dan karena Engkau menyamakan Diri-Mu dengan Allah, meskipun Engkau hanya seorang manusia” (Yoh 10:33). Mereka memandang Yesus dari sisi “hanya seorang manusia” (Jawa: ming menungso). Dalam hal ini, mereka telah merendahkan martabat manusia. Seorang manusia, bernama Yesus, telah direndahkan martabat-Nya, hakikat-Nya. Padahal, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol 1:15). Ketidakmampuan mereka untuk memahami Pribadi Yesus, membuat mereka mau melempari Yesus dengan batu. Sangat tidak manusiawi dan anarkis.

Saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan, kekerasan terhadap sesama manusia terus terjadi hingga saat ini. Pertama-tama, karena mereka tidak mampu memahami, menghargai, menghormati, mengagumi dan mengasihi sesama manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat sama di hadapan Allah. Oleh karena itu, kita perlu terus belajar memahami, menghargai, menghormati, mengagumi dan mengasihi orang-orang di sekitar kita, mulai dari keluarga atau komunitas kita.

Karena itu, saudara-saudari, satu hal penting perlu kita camkan, yaitu bahwa setiap pribadi “bukan hanya seorang manusia”. Karena Pembaptisan, ia adalah anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7); ia mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4); ia adalah kenisah Roh Kudus (bdk. 1Kor 6:19). Luar biasa, martabat seorang yang telah menerima Pembaptisan. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pertobatan untuk merawat bumi, Rumah kita bersama" Oleh RP Agustinus Ari Pawarto, O.Carm