Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Jumat 20 Maret 2026

Bacaan Liturgis – Hari Jumat, Pekan IV Prapaskah, 20 Maret 2026

  • Bacaan Pertama: Kebijaksanaan 2:1a.12-22

  • Mazmur Tanggapan: Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-18.19-20.21.23

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Terpujilah. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Terpujilah.

  • Bacaan Injil: Yohanes 7:1-2.10.25-30

Lengket Kayak Perangko

Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang harus kita lakukan agar kita bisa menikmati hari-hari kehidupan yang harus kita lalui setiap hari sebagai sebuah penyelenggaraan ilahi? Kita perlu senantiasa membuka diri bagi penyelenggaraan ilahi dalam hidup kita sehari demi sehari. Begitulah sikap dasar kita yang menyebut diri sebagai anak-anak Tuhan (bdk. Kebij 2:13), senantiasa membuka diri terhadap penyelenggaraan ilahi.

Sikap terbuka memungkinkan kita untuk terus mengupayakan diri menjadi orang yang baik. Meskipun, menjadi orang yang baik itu tidak gampang. Pasalnya, orang baik selalu dipandang sebagai pengganggu bagi orang-orang fasik. Bisa dibandingkan seperti butir-butir darah putih dalam aliran darah menyerang benda asing dalam tubuh, orang fasik menyerang orang yang baik dan benar, yang jalannya atau perilakunya berbeda sekali dengan jalan atau perilaku mereka.

Namun demikian para saudara, orang benar mesti berani tampil beda dari perilaku orang-orang fasik, berani terus berjuang menjadi orang yang baik akan membentuk kualitas diri sebagai orang benar di mata Tuhan. Sehingga, apabila ia berseru-seru, Tuhan mendengarkan (Mazmur Tanggapan, bait ke-1, Mzm 34:18). Pada akhir hidupnya, orang benar dipuji bahagia, karena bapanya adalah Allah (bdk. Kebij 2:16).

Umat beriman yang baik, salah satu gelar Yesus yang perlu kita kenal adalah Kristus atau Mesias. “Kristus” adalah kata Yunani untuk ungkapan Ibrani yaitu “Mesias” yang berarti “terurapi”. Kristus atau Mesias menjadi nama bagi Yesus, karena secara sempurna Yesus memenuhi perutusan ilahi, yang dimaksudkan oleh gelar “Kristus”.

Alasannya, karena bangsa Israel mengurapi dalam nama Allah orang-orang yang ditahbiskan untuk perutusan tertentu. Itu terjadi pada para raja (bdk. 1Sam 9:16; 10:1; 16:1.12-13; 1Raj 1:39), pada para imam (bdk. Kel 29:7; Im 8:12) dan kadang-kadang pada para nabi (bdk. 1Raj 19:16). Terutama pengurapan itu terjadi pada Mesias yang akan diutus Tuhan untuk mendirikan Kerajaan-Nya secara definitif (bdk. Mzm 2:2; Kis 4:26-27). Mesias harus diurapi oleh Roh Tuhan (bdk. Yes 11:2), tetapi juga sebagai nabi (bdk. Yes 61:1; Luk 4:16-21). Yesus dalam tugas-Nya yang rangkap tiga sebagai imam, nabi dan raja memenuhi harapan Israel akan Mesias (Katekismus Gereja Katolik, No. 436).

Namun, sekalipun Yesus memenuhi harapan Israel akan Mesias, mereka – orang-orang Yahudi - mempunyai pemahaman yang berbeda. Sebab, menurut mereka, yang namanya Mesias, Kristus, kalau Ia datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya, sedangkan Yesus itu mereka tahu dari mana asal-Nya (Yoh 7:27). Atas pemahaman tersebut, sewaktu mengajar di Bait Allah Yesus berseru, “Memang Aku kamu kenal, dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi diutus oleh Dia yang benar, yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku” (ay. 28-29).

Melalui kata-kata itu Yesus memberikan penjelasan, bahwa Diri-Nya berasal dari Bapa yang tidak mereka kenal. Yesus mengenal Bapa, sebab Dialah yang mengutus-Nya. Di sini Yesus – Sang Mesias itu – menjelaskan bahwa asal-usul Mesias bukan menyangkut “tempat tinggal” Yesus, yakni Nazaret, melainkan asal keilahian-Nya, yakni Allah sebagai Bapa. Dengan demikian, secara meyakinkan Yesus mewahyukan Diri-Nya sebagai Mesias, Anak Allah, yang memenuhi kriteria “asal-usul” yang tidak mereka kenal.

Petrus adalah salah seorang murid Yesus yang menangkap, mengenal dan mengakui Yesus sebagai Mesias. Itulah sebabnya ketika Yesus bertanya tentang siapakah Diri-Nya, Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16).

Selain Petrus, Rasul Paulus juga dengan gigih memberitakan tentang Yesus sebagai Mesias. Seperti ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberikan kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 18:5). Juga, dengan tak jemu-jemunya Paulus membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 18:28).

Keduanya itu, Petrus dan Paulus, adalah pemberita tentang Yesus sebagai Mesias, Dia yang telah diutus dan diurapi oleh Roh Tuhan untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan Bapa yang mengutus-Nya. Pekerjaan itu adalah menyelamatkan manusia dengan sengsara dan wafat-Nya di salib.

Saudari dan saudara yang mengasihi Tuhan, Rasul Paulus berkata, “Kamu semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus,… kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:27-28). Dengan pembaptisan, kita menyatu di dalam Kristus. Kita tidak sendirian. Kita tidak berjuang sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit atau persoalan hidup kita. Kristus selalu ada Bersama kita dan Dialah kekuatan kita.

Oleh karena itu, kita yang telah menerima Kristus, kita tetap di dalam Dia, tetap satu di dalam Dia. “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” kata Yesus (Yoh 15:5b). Kehadiran, penyertaan dan hidup Yesus yang disebut Kristus (Mesias) begitu menentukan bagi kita. Maka, tetaplah percaya kepada-Nya dan terus menyatu dengan-Nya. Istilahnya, lengket kayak perangko. Jadi, bukan hanya menempel, tetapi lengket. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Pembaruan Dalam Diri" Oleh RP Yohanes Tinto Tiopano Hasugian, O.Carm