Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Kamis 04 Juni 2026

Bacaan Liturgis โ€“ Pekan Biasa IX, Kamis, 04 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 2 Timotius 2:8-15

  • Mazmur Tanggapan: Ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4bc-5ab.8-9.10.14

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Berilah aku pengertian, maka aku akan menaati hukum-Mu, aku akan menepatinya dengan senang hati, ya Tuhan. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Markus 12:28b-34

Menempuh Jalan Kasih

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita akan merenungkan tentang Kerajaan Allah. Renungan kita terkait dengan pernyataan Yesus kepada seorang ahli Taurat yang datang kepada-Nya, โ€œEngkau tidak jauh dari Kerajaan Allahโ€ (Mrk 12:34b). Mengapa ahli Taurat ini posisinya tidak jauh dari Kerajaan Allah? Atau mengapa dia berada dekat Kerajaan Allah? Karena dia mengamini jawaban Yesus perihal mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri. Dia memiliki keterbukaan dan kerendahan hati terhadap Allah dalam Diri Yesus.

Jawaban Yesus atas pertanyaan si ahli Taurat tentang perintah yang utama berbunyi demikian, โ€œPerintah yang utama ialah: โ€˜Dengarlah, hai Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: kasihilah sesamamu sendiri seperti dirimu sendiri.โ€™ Tidak ada perintah yang lebih utama daripada kedua perintah iniโ€ (ay. 29-31).

Jawaban Yesus tersebut ditanggapi oleh si ahli Taurat dengan berkata, โ€œGuru, tepat sekali apa yang kaukatakan, bahwa Dia itu Esa, dan tidak ada Allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahanโ€ (ay. 32-33).

Kata-kata penegasan sang ahli Taurat itu menunjukkan bahwa dia tahu persis, paham tentang perintah yang utama, yang dari sudut pandang Yesus meliputi perintah mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri. Dia menangkap bahwa Yesus sedang meletakkan fundamen bagi suatu agama baru yang melampaui agama yang begitu mementingkan kurban bakar dan persembahan. Atas penegasan itulah lantas Yesus berkata, โ€œEngkau tidak jauh dari Kerajaan Allahโ€ (ay. 34b).

Akan tetapi, para saudara yang dikasihi Tuhan, ahli Taurat itu tampaknya โ€œbelum masukโ€ ke dalam Kerajaan Allah. Memang ia sudah โ€œtidak jauh dari Kerajaan Allabhโ€ dan hal itu bisa berarti dia masih berada di luar. Dia belum masuk, meski sudah dekat.

Saya berpikir begini, โ€œTahu atau paham tentang perintah yang paling utama saja, sudah membuat si ahli Taurat itu berada tidak jauh dari Kerajaan Allah. Apalagi, kalau dia lebih dari sekadar tahu tetapi juga menghayatinya. Dia pasti akan masuk dan berada di dalam Kerajaan Allah.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, lantas apa atau jalan macam apa yang bisa mengantar kita untuk masuk dan berada dalam Kerajaan Allah? Tidak lain adalah jalan kasih. Dengan menempuh jalan kasih, kita atau siapa pun dapat masuk atau berada dalam Kerajaan Allah. Konkritnya bagaimana? Dengan hidup dalam kasih, sebab kasih itu, kata Rasul Paulus, โ€œSabar menanggung segala sesuatuโ€ (1Kor 13:7).

Rasul Paulus mempraktikkan sendiri bagaimana ia sabar menanggung segala sesuatu, sebagai kesaksian nyata tentang hidup dalam kasih. Seperti dalam bacaan pertama, suratnya yang kedua kepada Timotius, Paulus berkata, โ€œKarena itu, aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekalโ€ (2Tim 2:10).

Jadi, keselamatan diperoleh dengan โ€œsabar menanggung semuanya ituโ€ (2Tim 2:10) atau โ€œsabar menanggung segala sesuatuโ€ (1Kor 13:7). Itulah jalan kasih yang mesti kita tempuh. Seperti โ€œketika Kardinal Franรงois-Xavier Nguyรชn van Thuรขn di penjara, dia menolak untuk menghabiskan waktu menanti pembebasan. Sebaliknya, dia memilih untuk โ€˜menjalani hidup saat kini, mengisinya dengan kasihโ€™โ€ (Paus Fransiskus, Seruan Apostolik Bersukacita dan Bergembiralah, No. 17). Itulah jalan kasih menuju Kerajaan Allah atau jalan menuju kesempurnaan kasih.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita terus-menerus menempuh jalan kasih. Sebab, dengan jalan kasih yang kita hayati, kita tidak hanya berada dekat dengan Kerajaan Allah tetapi masuk sehingga berada dalam Kerajaan Allah, yang tidak lain adalah Kerajaan Kasih. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.