Maria Kusuma Karmel

Mengalami Kehadiran Allah bersama Maria, Bunda dan Kusuma Karmel

Sambutan Romo Paroki

Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Informasi lebih lanjut

Pengumuman Gereja

KEGIATAN MENDATANG

Misa Harian

Hari Senin - Sabtu

  • 05.30 WIB

Misa Jumat Pertama

Hari Jumat Pertama Setiap Bulan

  • 19.30 WIB

Misa Minggu

Hari Sabtu

  • 16.30 WIB

Hari Minggu

  • 06.00 WIB
  • 08.30 WIB
  • 11.00 WIB
  • 16.30 WIB
  • 19.00 WIB - Misa Bernuansa Karismatik (tiap Minggu Ke-3)

Misa Online

Ditiadakan

RENUNGAN HARIAN

Senin 08 Juni 2026

Bacaan Liturgis โ€“ Pekan Biasa X, Senin, 08 Juni 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Raja-Raja 17:1-6

  • Mazmur Tanggapan: Pertolongan kita dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-2.3-4.5-6.7-8

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Matius 5:1-12

Lapar dan Haus akan Kebenaran

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mulai hari ini kita akan membaca dan merenungkan Injil suci menurut Matius. Tema hari ini tentang Sabda Bahagia. Apa yang dapat kita maknai dari Sabda Bahagia ini? Sabda Bahagia mana yang akan menjadi prioritas renungan hari ini? Atau Sabda Bahagia mana yang lebih menggerakkan hati untuk hidup dalam kebenaran?

Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Gaudette et Exultate (Bergembira dan Bersukacitalah), mengatakan bahwa Sabda Bahagia seakan merupakan kartu identitas Kristiani. Sehingga, kata Paus Fransiskus, โ€œKalau seseorang bertanya, โ€˜Apakah yang mesti dilakukan untuk menjadi orang Kristiani yang baik?โ€™ Jawabannya sederhana: Kita perlu menjalankan, masing-masing dengan caranya sendiri, apa yang dikatakan Yesus dalam Sabda Bahagiaโ€ (GE, No. 63).

Hari ini saya mau mengajak saudara sekalian untuk merenungkan tentang Sabda Bahagia, berkaitan dengan soal lapar dan haus. Yesus berkata, โ€œBerbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskanโ€ (Mat 5:6).

โ€œLapar dan haus merupakan suatu pengalaman yang mendalam, sebab keduanya melibatkan kebutuhan dasar dan naluri kita untuk bertahan hidup,โ€ kata Paus Fransiskus (Ibid., No. 77). Demikian juga pengalaman kita, saat-saat kita merasa lapar dan haus. Lapar dan haus menjadi kebutuhan dasar yang ingin segera kita penuhi, entah saat sedang bekerja atau saat kita sedang dalam suatu perjalanan.

Nabi Elia, orang Tisbe dari Tisbe Gilead, ketika bersembunyi di tepi Sungai Kerit di sebelah timur Sungai Yordan (1 Raj 17:1-3) juga merasa lapar dan haus. Bagaimana dia memenuhi kebutuhan dasarnya ini? Apa yang dia lakukan?

Nabi Elia pergi dan diam untuk bersembunyi di tepi Sungai Kerit di sebelah timur Sungai Yordan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepadanya. โ€œPada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai ituโ€ (ay. 6). Burung-burung gagak itu tahu bahwa mereka adalah para utusan Tuhan, sehingga mereka tidak egois dan tidak memanfaatkan roti dan daging yang mereka bawa untuk mereka makan, demi kepentingan mereka sendiri.

Roti dan daging mereka bawa kepada Nabi Elia yang lapar dan haus. Ia kemudian diberi minum dari Sungai Kerit. Mereka adalah utusan-utusan Tuhan yang tidak egois. Mereka adalah โ€œrasul-rasul solidaritasโ€ yang bekerja demi sang Nabi Elia agar bertahan hidup di dalam keterasingan dan ketersembunyian di tepi Sungai Kerit. Mereka juga menjadi โ€œrasul-rasul subsidiaritasโ€ yang melakukan apa yang Nabi Elia tidak bisa lakukan. Akhirnya, Nabi Elia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Ia dipuaskan oleh Allah.

Saudara-saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, dalam Injil hari ini Yesus juga menjanjikan bahwa mereka yang lapar dan haus, terutama lapar dan haus akan kebenaran, akan dipuaskan. Kata Yesus dalam khotbah tentang Sabda Bahagia, โ€œBerbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan Allahโ€ (ay. 6).

Dalam Kitab Suci, lapar dan haus adalah kata-kata kiasan yang artinya sama dengan rindu akan Allah. Hal ini bisa kita temukan misalnya, โ€œSeperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allahโ€ (Mzm 42:2). โ€œBarangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanyaโ€ (Yoh 4:13-14). โ€œBarangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!โ€ (Yoh 7:37).

Teks lain seperti dapat kita jumpai dalam Kitab Wahyu, โ€œSemuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega. Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupanโ€ (Why 21:6). โ€œBarangsiapa haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!โ€ (Why 22:17).

Seperti orang yang rindu akan Allah, yang benar-benar โ€œlapar dan hausโ€, kalau ia mencari sesuatu, maka ia akan mencarinya dengan sepenuh hati; kalau ia merindukan sesuatu, ia akan merindukannya lebih dari segala sesuatu yang lain, apalagi kalau yang dirindukan adalah Allah yang bisa memuaskan. Seperti dikatakan oleh Santo Tomas Aquinas, โ€œAllah saja memuaskan.โ€ Juga yang dikatakan oleh Santa Teresa dari Avila dalam puisinya yang terkenal, โ€œSolo Dios Basta!โ€ Artinya, โ€œAllah saja cukup!โ€ Allah saja sanggup memenuhi segala kebutuhan manusia.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kalau โ€œlapar dan hausโ€ lebih dikaitkan dengan kebenaran, maka secara umum dapat dikatakan bahwa kebenaran ialah apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan, seperti kejujuran, kebaikan dan terutama kebenaran dalam relasi dengan orang lain. Dengan demikian, yang lapar dan haus akan kebenaran ialah orang yang selalu bertanya-tanya apa yang menjadi kehendak Allah, lalu melakukannya. Jika ia berhasil melakukannya, maka ia akan dipuaskan Allah sebagai orang yang berbahagia dan Allah pun dimuliakan olehnya.

Oleh sebab itu, mari kita hayati Sabda Bahagia, dengan menjadi orang-orang yang selalu lapar dan haus akan kebenaran dan biarlah Allah saja yang memuaskan. Mari kita hidup dalam kebenaran dalam arti bertindak dan berbicara secara jujur, yang berarti kejujuran, ketulusan hati atau bersikap terus terang (Katekismus Gereja Katolik, No. 2468). Mari kita hindari segala pelanggaran melawan kebenaran berupa dusta, fitnah, umpatan dan bual. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]

VIDEO HIGHLIGHT

Sebuah katekese singkat "Kenaikan Tuhan Yesus" Oleh RP Titus Brandsma Pantjaja Adji Wiloso, O.Carm.