Renungan Harian

Renungan Harian 19 September 2026

Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XXIV, Sabtu, 19 September 2026

  • Bacaan Pertama: 1 Korintus 15:35-37.42-49

  • Mazmur Tanggapan: Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

  • Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10.11.12.13-14

  • Ayat Bait Pengantar Injil: Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Alleluya.

  • Bacaan Injil: Lukas 8:4-15

Benih Itu Ialah Sabda Allah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, jika Anda membuka Kitab Suci untuk menemukan perikop Injil hari ini, Anda akan menemukan judul perikop “Perumpamaan tentang seorang penabur”. Perumpamaan ini terdapat juga dalam Injil Sinoptik lain, yakni dalam Mat 13:1-23 dan Mrk 4:1-20, masing-masing dengan judul yang sama (Perumpamaan tentang seorang penabur).

Dalam penjelasan-Nya, karena para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu, Yesus mengatakan bahwa benih yang ditaburkan itu ialah Sabda Allah (ay. 11), yang akan menghasilkan buah dalam hati yang terbuka, bagaikan tanah yang baik (ay. 8 dan 15), tetapi dapat tak berbuah di tanah yang lain karena sejumlah alasan. Antara lain, karena dimakan burung-burung (ay. 5) atau direbut iblis (ay. 12), karena tak berair (ay. 6) atau karena berbagai pencobaan (ay. 13), dan karena terhimpit semak duri (ay. 7) atau terhimpit oleh kekhawatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup (ay. 14).

Perhatikan Saudara-saudari, ketika para murid meminta Yesus untuk menjelaskan maksud perumpamaan tentang penabur, Ia menjawab bahwa rahasia atau misteri atau tanda-tanda yang tersembunyi dari Kerajaan Allah disingkapkan kepada mereka. Kemudian Ia mengucap-kan pernyataan yang penuh teka-teki dengan mengutip teks Yesaya (6:9-10) yakni “supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (ay. 10).

Pertanyaannya, mengapa para pendengar sekalipun memandang namun tidak melihat dan sekalipun mendengar namun tidak mengerti? Karena hati mereka keras. Hati yang keras tidak akan membuat benih yang adalah sabda Allah itu bertumbuh dan berbuah.

Oleh sebab itu, dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium Paus Fransiskus berkata, “Injil berbicara tentang benih” (No. 22). Benih itu ialah sabda Allah dan “sabda Allah tak terduga kekuatannya” (Ibid.) Ia mempunyai kekuatan untuk tumbuh dan berbuah sejauh ia jatuh di tanah yang baik, yakni hati yang terbuka akan sang sabda, hati yang membiarkan diri diberi warta Injil.

Itulah sebabnya, para saudara, Paus Fransiskus mengatakan, “Kita perlu terus-menerus dilatih mendengar sabda. Gereja tidak mewartakan Injil apabila tidak terus-menerus membiarkan dirinya diberi warta Injil. Sungguh penting bahwa sabda Allah semakin menjadi pusat setiap kegiatan Gerejawi. Sabda Allah, yang didengarkan dan dirayakan, terutama dalam Ekaristi, memelihara dan secara batiniah memperkuat umat Kristiani, dengan memampukan mereka memberikan kesaksian otentik terhadap Injil dalam kehidupan sehari-hari”(Ibid., No. 174).

Seruan Paus Fransiskus ternyata menginspirasi kita akan beberapa hal: Pertama, perlunya latihan membaca Kitab Suci. Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) jarang menggerakkan atau “memaksa” kita untuk mulai belajar membuka dan membaca Kitab Suci. Padahal, latihan seperti ini perlu dan penting bagi seorang murid dan kita semua, yang di hadapan Yesus memang adalah murid. Seorang murid yang tidak mau belajar, termasuk belajar membaca, dia adalah seorang murid yang sombong, merasa sok pintar, atau malas atau acuh tak acuh.

Dalam kenyataan, tidak setiap orang bisa membaca Kitab Suci dengan baik dan benar. Hal ini tampak jelas ketika seorang umat membacakan salah satu perikop Kitab Suci, entah ketika Misa di rumah duka, di rumah umat di lingkungan atau di gereja. Contoh, “Bacaan dari Kitab Roma….” Tidak ada yang namanya Kitab Roma. Yang ada dan yang benar adalah Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma.

Kedua, latihan membaca berkaitan erat dengan latihan mendengarkan sabda. “Kita perlu mempraktikkan seni mendengarkan, yang lebih dari sekadar mendengar. Mendengarkan, membantu kita menemukan sikap tubuh dan kata yang tepat, yang menunjukkan bahwa kita lebih dari sekadar penonton,” kata Paus Fransiskus (Ibid., No. 171). Hal ini perlu dipraktikkan, baik ketika kita membaca Kitab Suci secara pribadi maupun ketika mendengarkan sabda Allah yang dibacakan, didengarkan dan dirayakan, terutama dalam Ekaristi.

Ketiga, sabda Allah perlu dan penting diperlakukan sebagai pusat setiap kegiatan Gerejawi. Itulah sebabnya, Keuskupan Agung Jakarta menghimbau agar dalam Kunjungan Dewan Paroki Harian (DPH) ke wilayah atau pada kesempatan rapat atau kegiatan Gerejawi lainnya selalu dibacakan sabda Allah dan direnungkan pesannya. Istilah yang dipakai oleh Keuskupan Agung Jakarta yaitu agar dalam setiap kegiatan Gerejawi diberi spiritualitasnya, tidak sekadar kumpul tetapi tidak diresapi oleh sabda, maka hati bisa menjadi tumpul. Hal ini untuk membantu umat agar terbiasa untuk mendengarkan sabda Allah dan menjadikannya sebagai pusat hidup Kristiani.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita senantiasa memelihara hati yang terbuka dan siap untuk ditaburi benih. Benih itu ialah sabda Allah. Benih sabda akan tumbuh dan menghasilkan buah jika kita yang mendengar sabda itu menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan. [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]