Renungan Harian

Renungan Harian 01 Februari 2026

Bacaan Liturgis - Hari Minggu Biasa IV, 01 Februari 2026

  • Bacaan Pertama : Nubuat Zefanya 2:3; 3:12-13

  • Mazmur Tanggapan : Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga

  • Ayat Mazmur Tanggapan : Mzm 146:7.8-9a.9bc-10

  • Bacaan Kedua : 1 Korintus 1:26-31

  • Bait Pengantar Injil : Alleluya. Bersukacita dan bergembiralah karena besarlah ganjaranmu di Surga. Alleluya.

  • Bacaan Injil : Matius 5:1-12a

Renungan Singkat : BERBAHAGIA

Kebahagiaan adalah harapan dan tujuan hidup manusia. Setiap manusia selalu merindukan kebahagiaan. Dan orang sering mengidentikkan kebahagiaan dengan kemapanan, harta benda, uang, kekayaan yang melimpah, jabatan atau kedudukan yang empuk, kekuatan dan keperkasaan, keberhasilan, pujian, dsb.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini justru menawarkan kebahagiaan yang berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh dunia. Bukan dengan kekayaan, melainkan dengan kemiskinan. Bukan dengan kegembiraan melainkan dengan dukacita. Bukan dengan kelimpahan, melainkan dengan kekurangan dan kelaparan. Bukan dengan keperkasaan dan kekuatan, melainkan dengan kelembutan hati. Bukan dipuji, melainkan dicela dan dianiaya.

Pertanyaannya bagaimana mungkin orang yang miskin, lapar, tertindas dan dianiaya mengalami kebahagiaan? Bukankah dalam kenyataannya mereka menderita karena kemiskinan, kelaparan dan penindasan yang mereka alami? Lalu mengapa Yesus menyebut mereka berbahagia?

Yesus menyebut mereka berbahagia bukan karena kemiskinan, kelaparan dan aniaya yang mereka alami, tetapi karena situasi kemiskinan, kelaparan dan aniaya yang mereka alami, membuat mereka hanya berharap dan bergantung pada Tuhan, membuka diri terhadap Tuhan dan mengharapkan belaskasih dari Tuhan. Keterbukaan terhadap Tuhan inilah yang membuat Tuhan dengan mudah berkarya atas mereka, membimbing dan membentuk mereka, sehingga mereka mampu melihat rencana Tuhan yang indah dibalik penderitaan yang mereka alami. Tetap bersyukur kendati mengalami berbagai kesulitan dan tantangan hidup yang mereka alami. Hal ini yang membuat mereka bersukacita dan bergembira, karena upah mereka besar di Surga.

Kita patut bersyukur dan berbahagia disaat kita mengalami keberhasilan, kelimpahan, kenaikan jabatan, pujian, dsb. Tetapi kita juga tidak perlu berkecil hati, bila suatu saat kita mengalami kekurangan, penderitaan, kegagalan, aniaya, dsb. Karena itu semua bukan akhir segala-galanya. Justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan memohon belaskasih dan bimbingan Tuhan. Menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan hidup kita selama ini. Apakah sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Bila tidak situasi ini bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk berbenah diri.

Kegagalan dan keterpurukan yang kita alami bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih rajin, serius dan berhati-hati dalam menjalankan hidup kita. Bila kita bisa memaknai penderitaan, keterpurukan dan kegagalan yang kita alami dengan baik. Mau melihat rencana Tuhan dibalik semua penderitaan dan kesulitan yang kita alami, maka saya yakin penderitaan, keterpurukan dan kegagalan yang kita alami bisa menjadi sarana atau kunci bagi kita untuk maju, bertumbuh dan berkembang dalam Tuhan. Penderitaan menjadi sarana atau jalan bagi kita untuk dapat mewujudkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

[RP. Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm.]