Bacaan Liturgis – Hari Minggu Paskah IV, 11 Mei 2025
Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 13:14.43-52
Mazmur Tanggapan: Kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2.3.5
Bacaan Kedua: Kitab Wahyu 7:9.14b-17
Bait Pengantar Injil: Alleluya. Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan. Aku mengenal domba-domba-Ku, dan domba-domba-ku mengenal Aku. Alleluya.
Bacaan Injil: Yohanes 10:27-30
Renungan Singkat : MENDENGAR, MENGENAL DAN MENGIKUTI YESUS
Hari ini, kita merayakan Minggu Panggilan. Kita merenungkan dan mensyukuri rahmat Tuhan yang dinyatakan di tengah-tengah Gereja-Nya melalui hidup para saudara dan saudari yang menanggapi panggilan suci. Mereka mempersembahkan hidup sebagai frater, suster, bruder dan Imam. Kehadiran mereka sungguh memperkaya Gereja dengan kasih Kristus dan memperindah Gereja lewat karya-karya pelayanan mereka di tengah umat dan masyarakat. Yang perlu kita renungkan hari ini ialah, bagaimana mereka memulai panggilan hidup suci ini? Pertama-tama, Panggilan itu berasal dari Yesus Sang Gembala Agung. Ia memperdengarkan suara-Nya dalam perjalanan hidup baik yang kita alami saat ini maupun yang telah berlalu. Seringkali kita mengabaikan begitu saja sapaan Yesus dalam hidup. Nah, dalam proses menjawab panggilan Yesus ini, kita belajar untuk mendengarkan Yesus, Sang Gembala Agung. Dari situ, kita dibimbing untuk mengenal dan memutuskan untuk mengikuti Dia dengan setia. Tentu, hal ini tidak terjadi dengan begitu cepat. kita membutuhkan waktu berproses; mendewasakan pikiran dan hati; memurnikannya dengan olah rohani yang cukup dan akhirnya dengan penuh keyakinan memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kita mengasihi Yesus. Tepat sekali Sabda Yesus ini, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh.10:27-28).
Hal yang patut kita syukuri dan sadari ialah bahwa ketika Yesus memperdengarkan Sabda-Nya kepada kita, Ia memberikan jaminan hidup kekal bagi setiap orang yang setia. Kita akan hidup bersama dengan Dia selamanya; tidak ada yang dapat merebut kita dari persekutuan kita dengan Yesus. Ini hal yang sangat mengagumkan! Namun di sinilah juga perlunya kerendahan hati. Kita harus rendah hati. Mengapa? Karena panggilan ini, suara Yesus ini kita dengar, kita kenal dan kita ikuti dengan segala kelemahan dan kerapuhan kita. Benar kata St Paulus, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami” (2 Kor.4:7). Kerendahan hati dalam menjalani panggilan Yesus itu menyelamatkan.
Kehadiran para suster, frater, bruder dan para imam telah memperkaya dan memperindah hidup Gereja lewat karya pelayanan mereka. Mereka sungguh-sungguh menjadikan diri utusan Yesus mewartakan Sabda-Nya ke berbagai tempat dan wilayah. Mereka berani melakukannya, karena percaya Yesus Kristus yang bangkit mulia itu menyertai dan memperlengkapi mereka dengan kuasa Roh Kudus. Mereka seperti pergi membawa kabar sukacita seperti Barnabas dan Paulus yang kisah pelayanan mereka kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini. Sebagai seorang pelayan utusan Yesus, tentu kita menyadari bahwa tidak semua orang langsung menerima kebenaran yang kita bawa dan wartakan. Hal itu tidak boleh menyurutkan semangat pelayanan kita. Kita percaya bahwa Roh Kudus akan mengubah pikiran dan hati mereka nantinya. Kita diutus untuk menabur; Roh Kudus yang akan menumbuhkan Sabda itu dalam hati mereka.
Akhirnya, hidup sebagai orang yang menanggapi panggilan Yesus itu indah dan membahagiakan! Menaburkan benih Sabda Yesus di hati banyak orang itu tidak ada duanya. Maka hari ini kita mau mengundang teman-teman muda sekalian, mari kita berusaha mendengarkan Sabda Yesus dalam hati kita; mengenali dan mengikuti Dia. Percayalah, kalau kita mengikuti Yesus, keputusan kita tidak akan pernah sia-sia. Dalam Dia, hidup kita semakin disempurnakan. Mari kita ingat bahwa sejak awal mula Allah menjadikan kita menurut gambar dan rupa-Nya (Kej.1:26). Hidup panggilan memungkinkan kita untuk menghadirkan sungguh-sungguh gambar dan rupa Allah itu dalam hidup kita lewat pelayanan penuh belas kasih kepada Gereja dan dunia. Tuhan memberkati. Amin.
[RP Manaek Martinus Sinaga, O.Carm]