Bacaan Liturgis – Pekan Biasa XI, Selasa, 16 Juni 2026
Bacaan Pertama: 1 Raja-Raja 21:17-29
Mazmur Tanggapan: Ya Tuhan, kasihanilah kami, orang yang berdosa ini.
Ayat Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4.5-6a.11.16
Ayat Bait Pengantar Injil: Alleluya. Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan. Kasihilah sesamamu sebagaimana Aku mengasihi kamu. Alleluya.
Bacaan Injil: Matius 5:43-48
Jalan Kesempurnaan – Jalan Kasih
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, “Hidup adalah kasih, nikmati itu!” demikian kata Santa Teresa dari Kalkuta. Saya setuju dengan pernyataan orang kudus kelahiran Albania ini. Orang yang menikmati hidup adalah orang yang hidup dalam kasih. Dan orang yang menikmati kasih adalah orang yang bisa menghargai hidupnya sendiri maupun hidup orang lain. Kasih membuat orang makin menghargai martabat hidup, baik pribadi sendiri maupun orang lain.
Ketika bertemu dengan Ahab, Elia berkata kepadanya, “Memang sekarang aku akan mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di hadapan Tuhan” (1Raj 21:20). Selanjutnya Elia berkata, “Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak dirinya dengan melakukan yang jahat di mata Tuhan, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, istrinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji” (ay. 25-26a). Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena baik Ahab maupun Izebel, istrinya, adalah orang-orang yang tidak hidup dalam kasih. Jalan yang mereka tempuh bukanlah jalan kasih.
Dengan menjadi jahat, karena tidak hidup dalam kasih, maka orang tidak bisa bertindak sebagai orang yang benar kepada siapa pun. Hidupnya menjadi tidak seimbang. Padahal, yang membuat orang bisa hidup secara seimbang, netral, tidak pilih-pilih, adalah Tuhan dan kasih-Nya. Hal ini tampak dalam kata-kata Yesus hari ini, “Ia (Bapamu yang di surga) membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat, dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar” (Mat 5:45).
Bapa memperlakukan semua orang dengan adil, penuh kasih dan perhatian. Matahari-Nya diterbitkan bagi semua orang tanpa kecuali, tanpa pilih-pilih, tanpa pamrih. Demikian juga dengan hujan, diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan yang tidak benar, sehingga semua orang mengalami rahmat yang sama. Oleh karena itu, anak-anak Bapa, umat Kristiani, para pengikut Yesus, mesti hidup dalam kasih seperti Bapa telah mengasihi umat-Nya tanpa pilih-pilih, tanpa mengenal batas, tanpa pandang bulu, dan tanpa kecuali.
Itulah sebabnya, Yesus berkata, “Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (ay. 46). Dalam imajinasi dan refleksi saya, Yesus hendak mengatakan, apa bedanya antara kalian sebagai anak-anak Bapa-Ku dan murid-murid-Ku dengan pemungut cukai? Apakah kalian tidak bisa tampil beda? Bisakah kalian mengasihi orang lain, bukan hanya orang yang mengasihi kalian, tetapi juga yang membenci kalian? Kalau Aku sudah mengasihi kalian tanpa membeda-bedakan, mengapa kalian sebagai murid-murid-Ku mengasihi orang lain dengan pilih-pilih dan dengan pamrih? Padahal, Aku tidak pernah mengajari kalian seperti itu!
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita mesti berani tampil beda biar sempurna. Kita mesti berani bergerak keluar untuk menjumpai dan mengasihi orang lain bukan hanya orang-orang yang mengasihi kita. Kita juga menjumpai dan mengasihi orang-orang yang membenci atau tidak senang dengan kita. Jika kita belum bisa menjumpainya secara tatap muka, bertemu langsung, Yesus memberikan solusi lain, berdoalah bagi orang itu (bdk. ay. 44).
Paus Fransiskus memberikan solusi lain, demikian, “Cara lain mengasihi musuhmu adalah demikian: Manakala muncul kesempatan untuk mengalahkan lawanmu, itulah waktunya engkau memutuskan untuk tidak melakukannya. Manakala engkau naik ke tingkat kasih, ke tingkat keindahan dan kekuatannya yang besar, satu-satunya hal yang engkau upayakan adalah mengalahkan sistem yang jahat. Engkau mengasihi orang-orang yang terperangkap dalam sistem itu, tetapi engkau berupaya untuk mengalahkan sistem itu (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, No. 118).
Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan, “Kebencian ganti kebencian hanya meningkatkan kehadiran kebencian dan kejahatan di alam ini. Bila saya memukulmu dan engkau memukul saya, dan saya membalas memukulmu dan engkau membalas memukul saya dan demikian seterusnya. Tentu hal ini akan berlangsung terus-menerus. Hal ini tidak pernah akan berakhir. Di suatu tempat seseorang harus memiliki sedikit kesadaran, dan itulah dia orang yang kuat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat memotong rantai kebencian, rantai kejahatan. Orang harus memiliki iman dan moralitas yang cukup untuk memotongnya dan menyuntik-kan ke dalam struktur alam unsur kasih yang kuat dan berkuasa” (Ibid., No. 118).
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini Yesus minta agar kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya (ay. 48). Bapa di surga itu sempurna, kasih-Nya tanpa pilih-pilih, tanpa mengenal batas, dan tanpa kecuali. Mari kita memilih dan memutuskan untuk menempuh jalan kesempurnaan ini yang tidak lain adalah jalan kasih, kasih yang tanpa pilih-pilih, tanpa mengenal batas dan tanpa kecuali. Tuhan memberkati dan salam kasih dari saya! [RP. A. Ari Pawarto, O.Carm.]